Skip to main content

Full text of "ebook tauhid dan jihad_1"

See other formats


Judul 
AKU MELAWAN TERORIS 

Penulis : Abdul Aziz 
alias Imam Samudra alias Qudama 

Editor : Bambang Sukirno 

Tataletak: Studio619 

Desain Cover : Rahmat Rudianto 

Penerbit : Jazeera PO Box 174 Solo, 

Tel. 0271-702 7661 

E-mail : jazeera@telkom.net 

SIUPNo. : 229/1 1.35/PK/YI/2004 



Website : www.akumelawanteroris.or.id 

Cetakan I : September 2004 



HALAMAN PERSEMBAHAN 
Bingkisan buat: 

Ayah dan bunda tercinta yang telah sekian lama tak bersua, dan kedua orang 
mertua yang soya hormati, semoga dirahmati Allah. 

Bidadariku dan sekalian cahaya mataku yang kucintai dan kukasihi semoga Allah 
merahmati kalian... 

Seluruh ikhwan Mujahidin senasib seperjuangan yang telah dan sedang diuji di 
bawah siksaan, tekanan dan kini kuliah di 'Kampus Teroris' -semoga lulus dan 
istiqamah. 

Seluruh 'partner' diskusi di alam maya, yang akan segera paham manhaj 
salafushshaleh bukan 'salafushshaleh' (dalam tanda petik). 

Keluarga syuhada Jihad Bom Bali dan bom lainnya, semoga diberi kesabaran oleh 
Allah dan turut mendapat syafa'at di akhirat kelak... 



TERIMA KASIH, MUSUHKU ..!! 

Syaikh Salman Fahd Audah 

Terima kasih, musuh...! 

Engkau mengajariku bagaimana mendengar kritik yang pedas tanpa harus merasa galau. 
Engkau mengajariku bagaimana harus terus melangkah di jalan yang telah kutempuh 
tanpa ragu, meski kadang aku harus mendengar kata-kata yang kurang pantas atau tidak 
layak. Sungguh, ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran yang tidak bisa 
didapatkan secara teori, bahkan oleh seseorang yang telah berupaya dan berupaya. 
Sampai kemudian Allah mendatangkan orang lain sebagai pelatih, yang memaksa 
meneguk pil pahit untuk pertama kalinya, agar terbiasa untuk selanjutnya. 

Terima kasih, musuh...! 

Engkaulah penyebab lahirnya pendisiplinan diri; agar diri tidak hanyut oleh pujian para 
pemuji. Sungguh, Allah menjadikanmu sebagai penyeimbang. Agar, seseorang tidak 
tertipu oleh pujian, atau sanjungan orang yang berlebihan, atau ujub yang tidak pada 
tempatnya, dari para pengagum yang hanya melihat kebaikan dan kebaikan belaka. 
Berbeda dengan engkau! Engkau tidak melihat kecuali dari sisi lain. Atau, engkau 
sejatinya melihat kebaikan tapi engkau buat ia menjadi buruk. 

Terima kasih, musuh...! 

Engkau telah mencela lisan-lisan pembela kebenaran, menyerangnya, juga 
menentangnya, yang karenanya mengobarkan sikap pembelaan yang hebat. 

Jika bukan karena nyala api yang membakarnya 
Aroma harum kayu gaharu takkan ada yang tahu 

Terima kasih, terima kasih! Engkau mempunyai kelebihan -sekalipun tidak engkau 
inginkan- dalam menciptakan iklim keseimbangan, juga obyektifitas sebuah pemikiran. 
Kadang, manusia meletakkan al-haq melampaui kadarnya. Dan engkau, menjadi 
penyebab ditegakkannya keseimbangan. Penyebab adanya evaluasi dan perbaikan. Maka, 
janganlah engkau diperbudak kemarahan atas sebab penolakanmu. Sebab seseorang, jika 
kepentingan telah masuk, tak dapat lagi melihat dan berpikir jernih. Yang tersisa hanya 
menolak dan menentang. Tak ada lagi ketenangan dan kehati-hatiaan dalam dirinya. Tak 
ada lagi kecermatan dalam memandang pendapat orang yang berbeda dengannya. 
Padahal, boleh jadi yang berbeda itu benar, meski hanya sedikit. 

Terima kasih, musuh...! 

Sungguh, Engkau telah mengasah semangat, menciptakan tantangan, membuka arena, 
dan menggelar kompetisi. Hingga setiap orang benar-benar terobsesi memenangkan 
dirinya, berambisi meningkatkan dirinya, tuk meraih kedudukan yang tinggi nan utama. 
Ya, berlomba adalah sunnah syar'iyah, adalah ketentuan Rabbani. Bukankah Allah 



bertirman, "Maka, pada yang demikian itu hendaklah manusia mau berlomba." 

Tentu, kemuliaan sebuah perlombaan, didasarkan pada tata-cara yang mulia, tujuan yang 
benar, media yang sehat, serta rongga yang bersih. 

Terima kasih, musuh...! 

Engkaulah yang menempa kami untuk berlatih bersabar, berlatih tabah dalam 
menghadapi cobaan, dan berlatih membalas keburukan dengan kebaikan sekaligus 
penolakan. 

Terima kasih, musuh...! 

Ya, timbangan kebaikan seseorang kelak, kadang bukan buah dari amal shalih yang ia 
lakukan. Tetapi, ia buah dari kesabaran, buah dari bersikap baik, buah dari ridha atas 
ketentuan-Nya, buah dari bersikap memaarkan... 

Musuhku..., aku sadar betul bahwa sebagian dari kata-kata ini membuatmu tidak 
berkenan, atau bahkan terasa menyesakkan hati. Tapi, sungguh saya tidak bermaksud 
membuatmu begitu. Sejujurnya saya katakan, engkau adalah teman sejati. Engkau adalah 
saudaraku seagama, sekalipun terdapat perbedaan pendapat di antara kita. Kalau saja kita 
mau melihat titik persamaan, cukup banyak yang bisa kita temukan. 



PENGANTAR TPM 

Sebagai hamba Allah yang amat dha'if lagi banyak kesalahan, mengutamakan memohon 
perlindungan ke hadirat Allah Rabbul Jalil merupakan keharusan dan kewajiban setiap 
insan. Dengan membaca "Basmallah", sebagai catatan kecil pelengkap, saya turut 
menghadirkan pengantar atas torehan catatan harian Imam Samudra yang berjudul: "Aku 
Melawan Teroris". 

Imam Samudra, pemuda yang menggentarkan dunia, adalah sosok pemuda yang tegar, 
tegas, amat memegang prinsip aqidah (istiqamah), tercermin dalam tindakan dan 
sikapnya; ia tidak memiliki rasa takut dan sedih, suaranya lantang, gemar menyerukan 
asma Allah dan Takbir. Banyak orang menilai dan menuduh bahwa ia tidak memiliki hati 
nurani, berdarah dingin, keji, bahkan sadis, hanya karena keyakinan, kecintaan, dan 
aktivitasnya berjihad di jalan Allah, khususnya dalam kasus tuduhan/dakwaan terlibat 
peristiwa bom 12 Oktober 2002 di Legian Bali. 

Dengan membaca torehan catatan hariannya, akan terungkap bahwa sesungguhnya ia 
adalah seorang hamba lemah lembut, memiliki hati nurani yang dalam, penuh humor. 
Namun, ketika ia dihadapkan pada kejadian-kejadian memilukan di dunia; seperti bayi- 
bayi kecil tanpa dosa yang telah kehilangan anggota tubuh, kehilangan orang tua, 
kehilangan masa depan, akibat ulah tentara-tentara Amerika di Atghanistan dan di Irak, 
juga ulah Israel di Tanah Palestina, ia merasa harus melakukan sesuatu. Ia harus melawan 
kezhaliman dan diskriminasi yang dilakukan Amerika dan sekutunya terhadap umat 
Islam. Terusik sikapnya memerangi penzhalim tersebut, sebagai suatu jawaban; ia 
memilih berjihad di jalan Allah untuk meraih surga. 

Torehan catatan harian Abdul Azis, berisikan kisah perjalanan masa kanak-kanak dan 
remaja, yang penuh pergulatan semangat keimanan dan keislaman, pembentukan jiwa 
dan semangat hidup, kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi yang 
sekuleris, yang ia tinggalkan demi meraih keindahan keislaman dalam berjihad. 

Masa remajanya, ia habiskan untuk berjihad nun jauh di seberang lautan, di padang 
tandus di Puncak Khost Afghan, yang jauh dari keramaian kota metropolitan idaman 
setiap pemuda modern. Hanya salju, kadang menghiasi kesejukan hatinya di antara 
desingan peluru dan mortir. Sesekali, ada tergambar kerinduan pada seorang anak 
manusia, sebuah nostalgia yang ia nilai sebagai kesalahan dan dosa, dan karenanya ia 
beristighfar. 

Tidak banyak yang dapat dijadikan pengantar buku ini. Sejak saya menjadi pengacaranya 
bersama rekan Tim Pengacara Muslim lainnya, yang mendampingi saat penyidikan di 
tingkat Kepolisian RI, pelimpahan berkas perkara di Kejaksaan, persidangan di Gedung 
Wanita Nari Graha Denpasar Bali, hingga kami memenangkan perkara uji materiil 
Undang-Undang no. 15 dan 16 tentang Pemberantasan Terorisme, tentu, sebagai 
pengacara, kami berharap itu semua akan membantu mengubah putusan Hakim yang 
sebelumnya berat menjadi lebih ringan. 

Sampai saat ini, kami meragukan bahwa musibah Bom Legian dilakukan oleh 



kelompoknya, kecuali oleh suatu sebab sebuah pengakuan yang hanya dilandasi oleh 
semangat berjihad dan rasa militansi yang tinggi. Hal ini bukan tanpa alasan; secara 
protesional, pengungkapan fakta persidangan perkara di atas, jauh dari pembuktian aspek 
pelaku tindak pidananya, melainkan hanya terbatas pada pengungkapan banyaknya 
jumlah korban dan kerugian materiil semata. Sementara, pembuktian terhadap pelakunya 
relatif minim. Hanya Allah yang Maha Tahu atas segalanya. Kita serahkan segalanya ke 
hadapan-Nya, Wallahu ATam bish-shawab. 

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt, dengan izin-Nya pula, buku ini terbit. 
Mudah-mudahan, kita semua mendapatkan pertolongan-Nya. Semoga buku ini memiliki 
hikmah yang dalam, bermanfaat buat para pembaca dan kita semua, khususnya bagi para 
mujahid. Tak lupa, kami pengacara, mengucapakan terima kasih yang sebesar-besarnya 
kepada Penyunting serta Penerbit, Semoga Allah membalasnya sebagai amal ibadah. 

Akhir kata, Wabillahi taufiq wal-hidayah, wassalamu 'alaikum warahmatullahi 
wabarakatuh. 

Jakarta, Jumadil Akhir 1425 H. 
Achmad Michdan 
Tim Pengacara Muslim 



PENGANTAR EDITOR 

B eberapa saat setelah penangkapan saudara Amrozi, saya pernah ditanya dalam sebuah 
forum kecil di Solokuro. Sebuah forum dadakan yang dihadiri teman-teman komunitas 
Muhammadiyah. Pertanyaannya; "Apakah Anda percaya ada intervensi asing dalam aksi 
Amrozi c.s.?" 

Saya menjawab, Saya belum memiliki data untuk menyatakan ada intervensi asing secara 
langsung dalam aksi tersebut, (mungkin Pak Z. A. Maulani dan Tim Investigasi MUI bisa 
menjelaskan lebih baik). Adapun intervensi tidak langsung, jelas kita semua melihat fakta 
itu. Terlepas kita setuju apa tidak, bukankah, para pelaku Bom Bali sering menyatakan 
dalam mass-media, bahwa aksi mereka lebih sebagai "pembalasan" atas aksi teror 
Amerika dan sekutunya terhadap umat Islam selama ini? 

Juga, kalau kita cermati "perjalanan hidup" para pelaku Bom Bali yang secara terpisah 
banyak dimuat oleh mass-media, mereka; para pelaku itu, menemukan kembali "kekuatan 
tim" saat berkonsentrasi membela saudara-saudara mereka yang tertindas di Ambon, 
Halmahera, dan Poso. Pertanyaannnya; siapa yang "membuat" kontlik di daerah-daerah 
tersebut, hingga para "alumnus" Afghan itu berduyun-duyun datang, dan mengalami 
eskalasi "kemarahan" yang membuncah luar biasa, dan kemudian melahirkan aksi-aksi 
seperti di Bali. Atau istilah lainnya; siapa yang mengumpulkan dan membangunkan 
"macan-macan" itu? Sampai sekarang, berita seperti penyelundupan senjata melalui kapal 
asing di laut Maluku, belum pernah diungkap secara transparan. Demikian, diskusi kecil 
itu. 

Itulah sebabnya, ketika saya diminta menyunting buku "Catatan Harian" Imam Samudra, 
saya mengusulkan judul "Aku Melawan Teroris". Menurut saya, judul itu lebih 
mencerminkan isi buku dan niat aksi yang mereka lakukan, meski caranya terbilang 
kontroversi. 

Semenjak Islam tidak memiliki institusi politik tunggal oleh sebab runtuhnya Khilafah 
Utsmaniyah di Turki, fungsi kekhilafahan, lebih banyak diperankan oleh jama'ah-jama'ah 
kecil yang tersebar di jagad raya. Ia menjelma menjadi aktifitas-aktifitas "parsial" yang 
kadang antara yang satu dengan yang lain tidak saling berhubungan. Masing-masing 
memiliki konsentrasi program tersendiri, terkait dengan prioritas dan kemudahan yang 
Allah berikan. Ada yang konsen pada pendidikan, politik, dakwah, pemurnian tauhid, 
pembinaan akhlak, dan jihad. 

Begitu luas dan berat tugas dan fungsi kekhilafahan, hingga tak satu jamaah pun sanggup 
memerankan sendirian. Repotnya, komunikasi antar kelompok baru bersifat wacana. 
Akhirnya, ikatan umat Islam yang tersisa, lebih kepada aspek pemikiran (meminjam 
istilah Ust. Abu Bakar Ba'asyir saat ditanya hubungannya dengan Usamah bin Laden; 
"Saya hanya memiliki jaringan Iman"). Tak ada loyalitas politik tunggal pada sebuah 
institusi yang merepresentasikan sikap dan aksi umat Islam itu sendiri. Sementara 
lembaga semisal OKI dinilai ompong, tidak representatif, dan sekadar assesoris belaka. 

Padahal aspek pemikiran (al-haq) sebagai ikatan yang tersisa, justru di dalamnya terbuka 



wilayah untuk tidak saling bertemu (disamping, misi juga bisa mempertemukan gerakan- 
gerakan yang beragam). Karena pemikiran didasarkan pada teks-teks nash. Sementara 
teks-teks nash, ada yang bersifat muhkam (jelas, tegas) dan ada yang mutasyabih (multi 
tafsir). Pada wilayah nash yang mutasyabihat inilah memungkinkan lahirnya multi 
interpretasi. 

Selain itu, perbedaan juga bisa muncul pada aktualisasi sebuah nash ke dalam realitas 
(tahqiqul manath). Misalnya, sebagian orang atau kelompok menilai sebagai telah mampu 
berjihad, sementara orang lain belum. Ada perbedaan menentukan "parameter mampu" di 
sini. Situasi Ipoleksosbud yang dihadapi masing-masing orang atau kelompok berbeda- 
beda. Keterpenjaraan seseorang juga berbeda-beda. Perbedaan melahirkan langgam dan 
intensitas perlawanan yang berbeda. "Kesepakatan pemikiran" selama ini lebih bersifat 
diktum global, misalnya; penegakan syariat, dakwah kepada tauhid, iqamatud-din, jihad 
itu wajib, dan seterusnya. Giliran bagaimananya..., beragam pandangan bisa muncul. 

Secara umum, perbedaan tidaklah tercela, atau tidak selamanya tercela, sepanjang telah 
melalui kode etik ikhtilaf yang dicanangkan ulama-ulama ahli fiqh. Dalam batas-batas 
tertentu, sebagian ulama malah menilai perbedaan sebagai keluasan. Bahkan, orang yang 
berijtihad salah, mendapatkan satu pahala. Dalam gerakan sebesar Ikhwanul Muslimin, 
sosiolog Mesir, Prof. Dr. Huwaidi, mencatat ada warna Sayyid Qutb, Sa'id Hawwa di 
satu sisi, dan warna Dr. Yusuf Qardhawy, Al Ghazaly di sisi yang lain. Padahal mereka 
dalam perahu yang sama. 

Ketika perbedaan menyangkut kepentingan publik atau menyangkut hal strategis, dan 
antara pandangan yang satu dengan yang lain bisa berposisi "antagonis" (tadhod), secara 
normatif hal ini diselesaikan lewat mekanisme keputusan keamiran. Karena salah satu 
fungsi amir adalah raful khilaf (mengatasi sengketa), yang salah satu bentuknya; 
memilih satu pendapat yang bertentangan untuk sebuah kebijakan makro. Ini seperti 
terjadi dalam kasus tanah rampasan perang pada era Umar bin Khattab. 

Dan di sinilah letak krusial persoalannya. Keamiran tunggal dalam Islam telah punah 
sejak 1924 M. karena ulah Kamal At-Taturk. Ia kini terreduksi dalam "sekoci-sekoci" 
kecil dan bukan "kapal induk". Ada sekoci Usamah bin Ladin, sekoci Dr. Yusuf 
Qardhawy, sekoci Hasan At Turaby, sekoci Al-Maududy dan seterusnya. Masing-masing 
memiliki grand strategi sendiri-sendiri. Dan tentu, "keamiran lokal" semacam itu 
mengandung krisis otoritas. Tokoh Muhammadiyah dinilai kurang otoritatif di kalangan 
NU, demikian sebaliknya. Abu Bakar Ba'ayir kurang otoritatif di kalangan laskar jihad, 
demikian seterusnya. Karenanya, ketika sisa ikatan umat umat adalah pemikiran (visi, 
iman), maka perbedaan adalah sebuah keniscayaan. 

Dalam kasus aksi Bali dan yang semisal, saya melihat rekaman tradisi fiqh Islam kembali 
berputar. Harus diakui, bahwa tradisi fiqh Islam lekat dengan dikhotomi antara ahlul atsar 
(mainstream nash) dan ahlur ra'yi (mainstream akal). Semestinya keduanya tidak perlu 
dipertentangkan, karena ulama seperti Imam Syafi'i, mampu memadukan dua 
kecenderungan tersebut dalam ij tihad-ij tihad fiqihnya. Keduanya memiliki tempat. Yang 
perlu dipersoalkan ketika perbedaan lahir dari pelanggaran atas sebuah kode etik ijtihad, 



seperti kecenderungan kelompok tertentu untuk berijtihad dengan mencampakkan 
otoritas masa silam dan cenderung liberal. Meski demikian, sebagai sebuah kenyataan 
sejarah, harus diterima bahwa dua arus utama itu tetap lestari, tetap ada, dan kadang 
saling "berhadap-hadapan". Dalam dunia harakah modern, kecenderungan semacam itu 
populer dengan istilah ahlul mabadi' (kelompok tekstual) versus ahlul mashalih 
(kelompok yang mengedepankan parameter maslahat). 

Fenomena ini semestinya membuat umat Islam rajin berdialog untuk lebih mencari titik 
persamaan, dan bukan klaim otoritas. Karena ragam amal, sebenarnya adalah kekayaan. 
Ibarat puzzle, potongan gambar besar itu menjelma pada aktititas harakah yang beragam. 
Ibarat tubuh, sekarang telah ada tangan, telah ada ada kaki, telah ada perut dan 
seterusnya. Jika unsur-unsur itu bersinergi justru saling melengkapi (istilah Dr. Shalah 
Shawy; yufidut-takamul). Inilah yang membuat gamang Amerika, karenanya ia buru- 
buru membuat hantu jamaah islamiyah; sebuah istilah generik yang menurut KH. 
Zainuddin M.Z bermakna "organisasi Islam", dan oleh Amerika disematkan pada 
gerakan-gerakan Islam militan yang menjamur. Persoalan besarnya, apakah ketika organ 
tubuh itu disatukan otomatis akan menjadi tubuh? Siapa sistim syarathya? Siapa 
nafasnya? Inilah PR umat Islam. 

Sebagai catatan akhir, jika kita cermati argumentasi Imam Samudra dalam buku ini, 
terutama saat menerangkan "Jihad antara Defensif dan Ofensif juga soal "Kronologi 
Syari'at Jihad dalam Al Qur'an", tegas bahwa Imam Samudra mengikuti madzhab jihad 
ofensif. Ini jelas berbeda dengan pandangan ustadz Abu Bakar Ba'asyir yang sering 
menyatakan bahwa jihad diperbolehkan ketika Islam ditindas, alias defensif (Sydney 
Morning Herald, Jumat 13/12/2002), atau, menurut keterangan salah seorang 
keluarganya; Ba'asyir memandang jihad ofensif (thalab) hanya berlaku ketika ada 
kekhilafahan Islam. Dari sini, secara 'filosofis' ada perbedaan pandangan yang cukup 
mendasar antara Ustadz Ba'asyir dengan Imam Samudra. Dan karenanya, adalah sebuah 
pemaksaan (untuk tidak menyebut tekanan) menghubung-hubungkan kasus Bom Bali 
dengan Abu Bakar Ba'asyir. 

Akhirnya, inilah Imam Samudra apa adanya, selanjutnya terserah pembaca dalam 
menyikapinya; bersimpati, menolak, netral, atau bahkan menertawakan. 

Wallahu a'lam. Ini sepenuhnya subyektifitas saya, seorang hamba yang penuh kenaifan. 

Solo, 3 Agustus 2004 
Bambang Sukirno 
Editor 



KHUTBATUL HAJAH 

Dengan takdir dan rahmat Allah semata buku ini terbit. Ia ditulis di tempat 'uzlah' dan 
khalwat kepada-Nya. Orang menyebutnya sebagai penjara. 

Sedari awal telah kukatakan kepada segenap Tim Pengacara Muslim (TPM) bahwa, 
tidaklah layak aku menulis autobiografi, karena memang tidak layak. Orang-orang yang 
ditakdirkan telah ditinggikan dan diharumkan namanya oleh Allah semisal Syaikh 
Usamah bin Ladin, atau Syaikh Maulawi Mullah Umar, dan tokoh-tokoh mujahidin 
lainnya -hafizhahumullah- itulah yang patut ditulis dan dikenang biografi mereka. 

Di sisi lain, kita punya kewajiban mematahkan street judgment yang selalu menyeret para 
mujahidin -dengan serangkaian aksi jihad mereka- ke dalam satu posisi yang amat 
sangat terpojok. Serangkaian aksi jihad mereka selama ini dianggap terjadi karena faktor 
kemiskinan, kekumuhan, keterpinggiran, ketertutupan (eksklusif), ketertinggalan, 
keterbelakangan, ketidaktahuan, kebodohan, bahkan 'kesesatan' dalam memahami dienul 
islam. Maka berpadulah antara keengganan menulis autobiografi dan kewajiban 
memberikan penjelasan dalail (dalil-dalil) syar'i operasi jihad semisal Jihad Bom Bali 
kepada kaum Muslimin. 

Hal lain, kemasyhuran adalah suatu perkara yang wajib dicurigai. Betapa naifnya seorang 
muslim yang dikaruniai Allah kemampuan beramal jihad, sementara pada akhir 
kehidupannya terdapat pernik-pernik sum'ah (popularitas) dalam hatinya. Ia mati dengan 
membawa syirik kecil. -naudzu billahi min dzalik- Inilah yang saya maksud dengan 
'biografi setengah hati', biografi yang tak utuh, yang diiringi oleh kekhawatiran akan hari 
pertanggungjawaban kelak. Ada pula faktor-faktor lain yang tidak perlu kuceritakan 
disini. 

Alhamdulillah, di atas segalanya, hal yang bagi saya cukup penting dan bermakna ialah 
bahwa naskah asli buku ini ditulis dengan tinta yang halal, di atas kertas yang halal pula, 
dengan perantaraan Pak Qadar, Pak Michdan dan saudara-saudara se-islam di TPM. 
Bukan tinta dan kertas milik polisi atau negara. 

Dengan segala kekurangan dan keterbatasan, sebenarnya ingin kusampaikan pesan 
terutama generasi muda islam bahwa ilmu hacking dan membaca Kitab Kuning -yang 
selama ini dipahami secara antagonis-, adalah sama-sama harus dikuasai atau minimal 
dimengerti. Akan semakin bagus jika memahami ilmu bombing atau jurus-jurus fighting 
dan killing yang digunakan untuk jihad fie-sabilillah. Maka, dalam pertempuran akhir 
zaman yang sudah di ambang pintu ini, berusahalah untuk menjadi preacher (ustadz/ 
da'i), hacker, bomber dan fighter atau killer! Demi Izzul Islam wal Muslimin. La Hawla 
wala Quwwata illa Billah. Allaahummaj'alna minhum. 

Wallaahu Alam bish-Shawab. 
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Al-faqir wal-haqir Ilallah, 
Imam Samudra 



DAFTAR ISI 
Persembahan... 3 
Terimakasih Musuhku. . . 4 
PengantarTPM... 6 
Pengantar Editor. . . 9 
KhutbatulHajah... 14 
Daftarlsi... 16 

A. Mengenal Pribadi Imam Samudra. .19 

01. Biografi Setengah Hati... 21 
a. Childhood...22 

b. SD vs Ibtida'iyyah... 24 
c. Teenager... 29 

02. Saat Salju Tiba, Rindu pun Menjelma. . . 41 

B. Samudra dan Paham Ke-Islam-an. . . 55 

01. Ajaran Sesat? Waduh... 57 

a. MengapaHarus SaMusshaleh?... 59 

02. Fatwa Maut dari Garis Depan. . . 67 

03. Ketika Gajah jadi Kipas... 73 

04. Dajjal... 83 

C. Aku Melawan Teroris. . . 87 

01. Luka yang Membesar. . . 89 

02. Biarpun Terluka di Mata Sejarah. . . 97 

03. Bom Bali, Jihadkah?. . . 107 
a. Pengetian Jihad. . . 108 

04. Bom Bali = Jihad Fi Sabilillah. . . 109 

05. "Sipil" Bangsa-bangsa Penjajah jadi Sasaran?... 109 

06. Bolehkah Memerangi Sipil Warga Bangsa-bangsa Penjajah?. ..111 
a. Hukum Dasar Membunuh atau Memerangi Sipil adalah Haram. ..115 

b. Memerangi Sipil Bangsa-bangsa "Penjajah" Sebagai Tindakan Setimpal dan Adil. 
116 

07. Mengapa Mesti di Bali. . . 120 

08. Beberapa Keterangan Hukum Bom Bali. . . 123 
a. Tahap I: Menahan Diri. . . 125 

b. Tahap II: Diijinkan Berperang... 126 

c. Tahap III: Diwajibkan Memerangi Secara Terbatas. . . 127 

d. Tahap IV: Kewajiban Memerangi Seluruh Kaum Kafir/Musyrik... 129 

09. Jihad Bom Bali Membunuh Sipil?. . . 135 
a. Bolehkah Membunuh Wanita Kafir?. . . 145 



b. Keterlibatan Wanita Zionis dan Salibis dalam Peperangan. . . 147 
c. Bom, Adakah dalam Islam?. . . 150 
d. Dampak Jihad Bom Bali. . . 151 
e. Kemsakan Ekonomi... 155 

10. Jihad Bom Bali, Antara Defensif dan Ofensif . . . 159 

11. Bom Syahid, Adakah dalam Islam?... 171 

a. Ahluts Tsughur dan Mujahidin Internasional. . . 173 

b. Jibaku Syahid dalam Sejarah Islam. . . 175 

c. Tombak, Pedang, Panah versus Bom... 179 

d. Bom Syahid Tidak Sama dengan Bom Bunuh Diri. . . 181 

e. Perbedaan Istisyhad dengan Bunuh Diri. . . 183 

f. Al-Qaeda dan Istisyhad Global. . . 184 

g. Bom Syahid Bali, Mengapa Mesti Terjadi?. . . 188 

h. Hukuman Mati. . . 191 

i. Penyesalan... 193 

j. Grasi... 197 

D.Penjara... 203 

Ol.Matahari... 205 

02. Ujian itu Pasti, Sabar itu Pilihan. . . 207 

03. Surga, Dikira Mudah?. . . 225 

a. Islam Ditegakkan dengan Pedang?. . . 233 

04. Escape...241 

05. Ketika Monyet Jadi Maskot. . . 255 

06. Hacking, Mengapa Tidak?. . . 259 
a. Hacking, Darimana Mulai... 260 
b. Menentukan Target. . . 262 

c. CC dan CVV / CW2. . . 264 

07. Yang Menyejukkan Hati. . . 267 

a. Siapa Lelaki Berjenggot itu?. . . 267 
b. Remote... 272 

c. Darimana Datangnya Air?. . . 273 
d. Roti dan Mentega. . . 276 



A) MENGENAL PRIBADI IMAM SAMUDERA 



ter tjs: 




Mengenal 

Pribadi 

Imam Samudra 



MENGENAL PRIBADI IMAM SAMUDERA 



1. Biography Setengah Hati 

1. Biografi Setengah Hati 
1. a. Childhood 
1. b. SD vs Ibtida'iyyah 
1. c. Teenager 

Biografi Setengah Hati 

Menulis biografi adalah pekerjaan yang sangat aku tidak suka. Ketika SD aku paling 
tidak suka mengisi buku diary yang biasanya meminta semacam biodata, kata mutiara, 
dan sejenisnya. Apalagi setelah aku dewasa. Apalagi setelah aku mengerti arti sebuah 
perjuangan menegakkan kalimah Allah yang menuntut betapa pentingnya menjaga 
sebuah rahasia. Maka bograti adalah salah satu perkara yang sangat aku hindari. 

Jika kini aku menulis biograti, itu karena drakula bin monster Amerika dan sekutunya 
terlanjur mengetahui nama kecil dan sebagian masa laluku. Meski demikian, dalam 
penulisan biograti setengah hati ini, akan tetap kuhindari hal-hal yang kukhawatirkan 
akan membatalkan pahala di sisi Allah kelak -naudzu billahi mindzalik. 

Karena menyebut-nyebut kebaikan sendiri di hadapan manusia hanya akan membatalkan 
pahala. Memang, segala amal itu tergantung pada niat. Tetapi sungguh, menjaga niat itu 
bukanlah perkara yang mudah. La hawla wala quwwata illa billah. 

Seandainya tidak kuingat ayat di atas, dan demi kepentingan pertanggungjawaban seluruh 
tulisan dalam buku ini, niscaya tak akan kutuliskan biograti setengah hati ini. Siapapun 
yang ditakdirkan Allah membaca biografi ini, ia tidak akanmendapati apa-apa selain 
ketidakpuasan atau malah kebosanan. Wallahu a'lam. 

Kepada mereka yang sempat bertemu denganku dan mengetahui aib dan atau dosa- 
dosaku, kukatakan, "Sesungguhnya mereka hanya mengetahui setitik aib dan secuil 
lautan dosa-dosa yang telah kupemat. Dan hanya aku dan Allah yang tahu. Semoga Allah 
Yang Maha Mengampuni menghapuskan segala dosa-dosaku, yang disengaja ataupun 
tidak, yang nampak dan yang tak nampak." Amien. 

"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan 
seorang wanita, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian 
saling mengenal." (Al Hujurat:13). 

Childhood 

Dengan takdir Allah, di sebuah kota kecil ibukota kabupaten Serang, Kecamatan Serang 
(sekarang provinsi Banten), desa Lopang Gede, Kampung Lopang RT 04/ RW 01, jalan 
Sema'un Bakri 201, pada 14 Januari 1970/1971 aku dilahirkan. Akhmad Syihabuddin bin 
Nakha'i itu nama ayahku. Sedangkan ibuku bernama Embay Badriyah binti Sam'un. 



Kedua orangtuaku -Allahummaghfirlie wa-liwalidayya war-hamhuma kama rabbayanie 
shaghira- memberiku nama Abdul Aziz. Alhamdulillah, nama yang bagus. Artinya, 
hamba Allah Yang Mulia. Kalau tidak salah, nama itu sama dengan nama Raja Saudi 
Arabia waktu itu: Abdul Aziz bin Faishal. 

Kedua orangtuaku asli Banten. Dari garis ayah, kakekku (M. Nakha'i) adalah seorang 
juragan besar pada zamannya. Beliau seorang yang ta'at beribadah. Ia selalu mengenakan 
topi haji, atau peci hitam. Pertama kali beliau mengajakku ke masjid ketika umurku 
empat tahun. Itu kuketahui, karena ketika dalam perjalanan menuju masjid, kakek yang 
mengenakan jas dan sarung berikat pinggang serta terompah kulit dan membawa tongkat 
seperti Bung Karno itu, ditanya oleh beberapa orang yang berpapasan, "Berapa umur 
cucunya ini?" lalu kudengar beliau menjawab, "Empat tahun." 

Terakhir kali aku hidup bersama kakek pada sekitar kelas dua SD sepulang sekolah. 
Waktu itu aku mengenakan T-Shirt Argentina 78. Ayah, ibuku, dan sanak keluarga 
lainnya pergi ke rumah sakit Serang dengan mengendarai mobil colt bertulis NASIA 
(Nakha'i dan Asiah), nama perusahaan milik Kakek. Aku ingat persis nenekku (Asiah) 
dan seluruh perempuan termasuk Ibu dan Bibi serta Uwak menangis begitu tahu Kakek 
meninggal dunia. Allah Yarham. Inna lillahi wa-inna ilayhi Raji'un. 

Alhamdulillah, dengan segala kekurangannya, beliau ketika itu sebagai sosok tukang 
ngaji dan tukang adzan. Masa itu uwak Satiyuddin, Imam masjid Ust. Suruji, Kyai 
Mahmud, Ust. Turmudzi, Ust. Asrul, masih terbilang saudara dari garis nenek dan kakek. 
Sehingga aku tidak terlalu sungkan untuk datang sendiri ke masjid setelah kakek 
meninggal, sekalipun tidak rutin lima waktu. 



Cicit ke-3 dari seorang Ulama' Mujahid Fi Sabilillah 

Dari garis ibu, Alhamdulillah, aku masih kecipratan turunan darah mujahid, sekaligus 
Ulama'. Ulama' sekaligus mujahid. Yang kumaksud adalah Ki (Kyai) Wasyid, salah 
seorang tokoh perlawanan masyarakat muslim Banten melawan penjajah Belanda yang 
beragama Kristen. 

Pada Senin, 9Juli 1888, terjadi peristiwa bersejarah yang amat terkenal di Banten. 
Masyarakat setempat menyebutnya peristiwa "Geger Cilegon". Jihad fi sablillah melawan 
penjajah ini dipimpin langsung oleh Ki Wasyid. Dalam beberapa masa kemudian, beliau 
ditangkap Belanda karena adanya pengkhianatan dari kalangan dalam sendiri. Sejarah 
lengkapnya aku kurang begitu menguasai. Tetapi yang jelas, jika dirunut, ternyata aku 
termasuk dalam urutan cicit ke-3 dari Ki Wasyid -rahimahullah. 

Alonumen jihad beliau diabadikan berupa patung lelaki berjubah lengkap dengan 
senjatanya, di tengah kota Serang, ibukota provinsi Banten sekarang. Sejarahwan 
barangkali menyebutnya sebagai "Pahlawan Nasional", tetapi aku menyebutnya sebagai 
Ulama Mujahid Fi Sabilillah. Semoga Allah menerima amal shaleh beliau • 



SD vs Ibtida'iyyah 

S 

ebelum sekolah, aku agak susah membedakan antara amco dan maco. Kebiasaan nonton 
tv 14" hitam putih di rumah kakek bersama kakak sepupu, membantuku dapat membaca 
sebelum sekolah. Tetapi yang paling kuat pengaruhnya ialah karena aku sering duduk di 
sebelah kakek yang acap kali membawa tumpukan surat bertuliskan "Toko Setudju", 
"Bon Kontan" -yang agak unik bentuknya ialah kertas mirip uang bertuliskan "Saham 
Obligasi". Dan yang sampai kini aku belum mengerti cara menggunakannya ialah benda 
terdiri dari 'roda-roda' kecil terbuat dari kayu keras yang disebut ijiran cina. Alat ini 
biasa dipakai kakek untuk menghitung. Kadang-kadang beliau gunakan juga untuk 
menggelitik badanku yang agak kurus. Dia akan terbahak saat aku kegelian. 

1978. Menjelang Zhuhur, aku sempat bertanya, "Gimana, bah, sekolah saya, jadi nggak?" 
Aku benar-benar kecewa saat kudengar, "Pak Matori bilang, kamu belum cukup umur." 
Lalu aku ngotot kalau aku sudah bisa baca. Aku benar-benar merengek ingin sekolah. 
Akhirnya, beberapa hari kemudian, ayah membawaku ke sebuah sekolah yang waktu itu 
disebut SD IX. Di sana, aku dipertemukan dengan seorang yang kemudian kukenal 
sebagai Pak Matori, Kepala Sekolah SD tersebut. 

Setelah ditanya, aku diminta melingkarkan tangan kananku di atas kepala dan menyentuh 
telinga kiri. Kemudian beliau menunjuk kursi kayu coklat bertuliskan SD IX warna putih. 
Ketika disuruh membaca, dengan cepat aku menyebut, Es De -iX (iks)!". Kontan beliau 
tergelak begitu juga ayahku. Dua hari setelah itu, Senin, aku resmi jadi murid kelas I 
SDN9Serang. 

Pada tahun yang sama, aku telah duduk di kelas dua Madrasah Ibtida'iyyah Al 
Khairiyyah Serang. Sekolah Agama yang dimulai pukul 14.00 hingga 17.00 WIB itu, 
memang peraturannya tidak terlalu ketat. Apalagi asatidz (para pengajar)nya adalah 
saudara dan tetanggaku sendiri. Suasananya memang agak membosankan. Mulai dari 
bangku, kursi, dan meja tua yang telah dimakan rayap, buku absensi yang lusuh, disiplin 
yang amburadul sampai pengajar yang terkesan memanfaatkan 'sisa umur' dan 'tenaga 
sisa' setelah bekerja di pagi hari. Yah, daripada tidak. 

Pergaulanku dengan teman-teman SD berpengaruh besar pada pendidikan ibtida'iyyahku. 
Dari sekitar 40 murid, tak sampai 10 orang yang belajar di ibtida'iyyah. Memprihatinkan 
memang. Sejak saat itu, aku mulai 'ngadat' malas ke madrasah. Jika sebelumnya pukul 
14.00 WIB aku sudah di madrasah, maka kebiasaan baik itu kemudian berubah. Aku 
lebih suka nonton TV di rumah kawan baru atau jalan-jalan ke alun-alun Serang tanpa 
sepengetahuan orang tua. Bad habitual itu terus berjalan selama setahun, sehingga 
akhirnya raport ibtida'iyyahku berangka merah, alias blank. Walhasil tidak naik kelas. 

Sepertinya, orangtuaku memahami keadaanku. Mereka tidak marah. Begitu aku 
menginjak kelas dua SD, terutama ibuku memberi warning dan nasihat agar kembali 
masuk madrasah. Otomatis sejak pukul 07.00 hingga 17.00 WIB, dipotong shalat Dzuhur 
hingga 14.00 WIB, aku full belajar. Secara umum, mereka yang di madrasah baru kelas 



satu, maka di sekolah luar telah menginjak kelas dua ke atas. Bahkan pada saat aku kelas 
empat ibtida'iyyah, ada di antara kawanku yang telah duduk di kelas III SMP. 

Kelas I-II SD kujalani. Sekolah enjoy, biasa-biasa saja. Waktu itu aku belum mengerti 
apa itu rangking, apa itu angka merah. Hanya yang tidak pernah kulupakan sampai saat 
ini, jika tiba giliran pelajaran membaca, aku dan dua orang teman sekelasku disuruh 
keluar dan diberi buku bacaan tersendiri. Kadang-kadang kami disuruh ke perpustakaan. 
Rupanya Bu Guru tahu kalau aku 'bosan' membaca dan menulis "Ini Budi.., itu bukan.." 
Berulang-ulang. 

Kejadian yang terus berulang itu akhirnya kusampaikan pada ibuku. Beliau nampak 
tersenyum senang. Waktu itulah pertama kali aku mendengar ibu berkata, "Kakak- 
kakakmu bintang pelajar, kamu harus seperti mereka." Aku begitu tertarik saat ibu 
menceritakan bahwa kakakku sering menerima hadiah buku tulis dan perlengkapan 
sekolah dari sekolahnya. Saat kutanya bagaimana caranya jadi bintang pelajar dan 
mendapatkan hadiah itu, ibuku hanya bilang, "Rajin-rajin belajar." 

Sebenarnya, tidak ada bedanya bagiku rajin belajar atau pun tidak. Bahkan saat itu, aku 
memahami rajin belajar sebatas rajin sekolah. Rasanya tidak ada bedanya mengulang 
kembali pelajaran di rumah ataupun tidak. Toh saat ulangan harian, atau ujian kenaikan 
kelas, nilai yang didapat tetap sama. Dan, Alhamdulillah, selalu dapat juara kelas. 
Saingannya paling juga anak pak Penilik Sekolah yang berkantor di Depdikbud. Ia sering 
mendapat rangking satu. 

Di antara pelajaran (bidang studi) yang diajarkan, yang paling kugemari adalah 
matematika dan IPA. Selebihnya, kuanggap sebagai pelengkap saja. Kalau boleh 
kubilang, aku membaca 80% buku-buku perpustakaan sekolah, surat kabar, dan majalah. 
Sedangkan buku-buku pelajaran hanya 20%. 

*** 

"Buldozer" pendidikan sekuler memang terlalu kuat, sehingga sanggup menggusur 
pendidikan dien (agama). Sejak kelas IV aktivitas SD-ku makin meningkat. Aku harus 
ikut lomba matematika, lomba catur, lomba puisi, lomba mengarang, dan macam-macam 
lomba lain yang memerlukan waktu ekstra di luar jam sekolah SD. Anak kecil seusia itu, 
siapa sih yang tak senang diajak jalan-jalan keluar sekolah oleh Pak Guru untuk ikut 
perlombaan? Apalagi dikasih makan nasi Padang dan kalau pulang dapat uang saku. 
Melihat kenyataan ini, kedua orangtuaku tak berkutik. Aku cuma membatin, "Apakah ini 
yang dimaksud ibu sebagai bintang pelajar?" 

Seperti kubilang tadi, akhirnya ibtida'iyyah tergusur. Aku berhenti. Waktu itu aku belum 
mengerti bahwa sebenarnya hal itu merupakan musibah. Kelas V SD lebih seru lagi. Kali 
ini aku mewakili sekolah untuk mengikuti pemilihan pelajar teladan mulai tingkat 
kecamatan, sampai kabupaten. Ada rasa kebanggaan tersendiri, saat upacara Senin pagi, 
wali kelasku mengumumkan di depan murid-murid dan guru bahwa aku berhasil menjadi 
pemenang dengan meraih angka 8 (delapan) untuk studi matematika. Nilai itu merupakan 



angka tertinggi. Untuk mata pelajaran lainnya tak aneh mendapat nilai di atas itu. 
Alhamdulillah. 

Sebagai pelajar SD 'ultranasionalis' (Ciyaa..), tak aneh kalau aku dan Tim Sekolah 
memenangkan cerdas-cermat P4 tingkat kecamatan (lumayan. . .). Di tingkat kabupaten 
kami tumbang, Alhamdulillah. Bayangkan kalau menang sampai tingkat kabupaten, terus 
tingkat provinsi, terus nasional, mungkin sekarang aku jadi pengacaranya Edi Tansil, atau 
Sofyan Wanandi. Bisa juga menjadi Hakim Ketua yang memvonis 'hukum mati' untuk 
Theo Syafi'i, atau malahan menjadi hakim ketua untuk sidang kasus bom Bali, dan yang 
jadi tersangka pasti TPM. . . 

Lagi-lagi, aku dikirim mewakili sekolah untuk lomba baca puisi. Seperti biasa, untuk 
putra, aku ditakdirkan menang tingkat kecamatan sehingga kemudian maju ke tingkat 
Kabupaten. Waktu itu seingatku utusan putri dari sekolahku kalah tipis. Yang terpilih 
sebagai pemenang putri malah dari sekolah lain. Siapa dia? (berhubung sudah 23.15 
WITA dan aku sudah mengantuk, jadi mendingan tidur dulu deh... he he he... 

*** 

Rupanya pemenang putri itu dari sekolah 'musuh'-ku, musuh dalam segala perlombaan. 
Ia dari SD 2 Serang. SD 2 Serang memang musuh bebuyutan dengan SD kami. Tapi yang 
jelas predikat SD teladan, sudah disapu oleh sekolahku. Kelak 'sang Putri' ini bertemu di 
eS-eM-Pe. Tak disangka. 

Adalah karunia Allah yang sangat-sangat-sangat besar jika sejak empat tahun aku 
dikenalkan masjid -Alhamdulillah- sehingga dalam kesibukan sekolah seperti apapun 
aku tidak bisa meninggalkan shalat. Inilah barangkali yang akhirnya memanggil nuraniku 
untuk kembali ke ibtida'iyyah. Aku haras duduk di kelas IV ibtida'iyyah. Di sini aku 
mulai menyukai pelajaran bahasa Arab dan hadits. Aku sangat senang saat ustadz Asma'i 
menyuruhku membaca sekaligus menterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Beliau yang juga 
tetanggaku dan masih saudara jauh, dalam sebulan mengajar empat kali; dua kali bahasa 
Arab dan dua kali hadits. 

Minggu pertama, bahasa Arab teori. Beliau membacakan bahasa Arab kemudian 
menerjemahkan. Murid-murid mendengarkan. Baru pada pertemuan berikutnya, setiap 
murid disuruh membaca dan menerjemahkan. 

Minggu ketiga, beliau menuliskan hadits sekaligus menerjemahkan. Kemudian beliau 
menerangkan kandungannya. Seluruh murid wajib menulis tulisannya. Minggu 
berikutnya beliau khususkan untuk hafalan hadits yang minggu ini beliau tuliskan 
minggu sebelumnya. Murid yang sudah setor hafalan pada pertemuan itu, tidak punya 
kewajiban untuk hafalan pada pertemuan berikutnya. 

Kebiasaan Pak Ustadz yang kuhafal itu rupanya memancing kebiasaan burukku. Aku 
memang memiliki kebiasaan kurang bagus waktu itu. Cepat bosan mendengarkan 
keterangan pelajaran secara formal, bahkan tidak tertarik sama sekali. Sepertinya, aku 



lebih suka membaca sendiri daripada mendengar guru menerangkan pelajaran. Toh 
hasilnya sama. Kalaupun aku mendengar dan memperhatikan Sang Guru di depan kelas, 
itu karena aku manjalankan kewajiban seorang murid untuk menghormati ustadz dan 
guru. Dan itu akan mendapat pahala di sisi Allah. Hal itu juga melatih seseorang untuk 
tidak sombong alias takabur. 

Dari empat pertemuan dengan ustadz Asma'i, seterusnya aku lebih sering menghadiri dua 
kali pertemuan saja; pertemuan kedua dan ketiga. Pertemuan pertama dan keempat 
kugunakan untuk 'minggat' ke Pelabuhan Merak. Mengamati kesibukan para kuli 
panggul, hilir mudik di kapal ferry sekaligus menikmati birunya selat Sunda. Kalau tidak, 
sudah pasti aku nongkrong di taman bacaan terjauh dari rumah dan sekolah. Teman 
seangkatan madrasahku, paham benar kebiasaan bolosku. Tetapi anehnya, aku tidak 
mendapat teguran sama sekali dari orangtua dan para ustadzku. Makin aneh lagi setelah 
aku dipilih mewakili kelas untuk mengikuti cerdas-cermat tingkat sekolah, kemudian 
naik ke tingkat kecamatan. Sekolah kami, waktu itu hanya menduduki juara kedua, 
dikalahkan oleh tuan rumah Madrasah Nurul Huda, Kelapa Dua Serang. Hadiahnya 
songkok hitam tanpa cap, dan Al Quranul Karim cetakan Al- Ma'arif Bandung. 

Harus aku sesali dan aku akui, belajar di Ibtida'iyyah lebih terkesan asal-asalan dengan 
berbagai faktor penyebab. Sehingga sampai lulus ibtida'iyyah, nilai ijazahku amburadul. 
Asal lulus. Nilai rata-rata enam lebih dikit. Sedangkan di SD cukup banyak 'kompor' 
yang membuatku sangat termotivasi. Mulai dari teman sekelas sampai wali kelas yang 
memberikan semacam expectation, agar aku meraih NEM terbesar se Kabupaten Serang. 
Alhamdulillah tak terlalu berhasil, tidak juga gagal. 

Kabar angin yang kudengar, angka tertinggi saat itu adalah 49. Sedangkan aku cuma 
dapet 47 dari enam mata pelajaran. Di kota lain, kabupaten lain atau provinsi lain, angka 
seperti itu mungkin terhitung kecil atau dianggap kecil. Tadi di Kabupatenku -kata Pak 
Guruku- angka yang kuperoleh cukup lumayan. Alhamdulillah. 

*** 

Di luar pendidikan formal versi sekuler, malam hari setelah maghrib sampai Isya', aku 
tetap mengikuti pengajian Al-Qur'an secara khusus, mulai dari turutan (Juz 'Amma) yang 
menggunakan metode Baghdad (Al-Qa'idah Al-Baghdadiyyah) sampai khatam Al- 
Qur'an. Selama enam tahun belajar Al-Qur'an, aku baru belajar pada enam guru ngaji, 
terhitung dari mulai alif bengkok, tajwid, makhraj huruf sampai langgam qira'at. 

Para ustadz -semoga Allah membalas kebaikan mereka semua dengan kebaikan 
setimpal- yang sangat berjasa itu antara lain: Kyai Mahmud, Nyai Ncah, Ustadz Surudji, 
Ustadz Turmudzi, Ustadz Asrul (Almarhum), Bimur (Almarhum), Kyai Hasan, serta 
Mang Min. 

Teenager 

Disadari atau tidak, cerita tentang Jannah (surga) dan Nar (neraka) sangat berpengaruh 



pada diriku. Apalagi jika membaca komik berjudul Surga dan Neraka dengan peran 
utama bernama Sholeh dan Karma. Dalam komik bergambar itu, tokoh Sholeh dengan 
amalnya yang sholeh seperti shalat, ngaji, sedekah, hormat pada orangtua dan kebaikan 
lainnya akhirnya masuk surga. Sedangkan si Karma yang tidak shalat, tidak ngaji, tidak 
sedekah dan selalu berbuat keburukan akhirnya masuk neraka. 

Otomatis hal ini menimbulkan keinginanku untuk meneruskan pendidikan negeri 
(sekuler). Ketika lulus SD aku berniat mendaftar ke SMPN 4 Serang dan MTS Insaniyah, 
Serang. Waktu itu aku bertikiran; SMP Negeri untuk urusan dunia dan Tsanawiyah untuk 
akhirat. Simple. Kenyataan berbicara lain. SMP favorit -yang ketika test aku ditakdirkan 
Allah mendapat ranking ke-4 dari 240 siswa yang diterima- itu ternyata kekurangan 
lokal. Sehingga untuk murid kelas I harus menjalani kegiatan belajar pada sore harinya. 
Dengan begitu berarti saat itu aku 'siap diproses' menjadi manusia Sekuler, manusia 
Pancasilais yang wajib bertoleransi dengan kebathilan dari penjuru manapun. 

*** 

Ada satu peristiwa "nggak lucu", yang akhirnya jadi sejarah hidup dan kenangan manis. 
Dalam satu upacara penutupan penataran P4 murid baru, yang jadi protokol waktu itu 
adalah..., adalah..., adalah...ya itu, Sang Putri yang menjadi juara I baca puisi pelajar SD 
se-Kabupaten Serang. Upacara bubar. Siswa berebut ke kantin demi membasahi 
kerongkongan masing-masing, sekaligus mengganjal perut bagi yang lapar. Kantin 
penuh. Aku malas berebut. Alternatifnya, aku cari tukang es yang lagi 'manyun' . 
Rasanya memang kurang enak, kalau tidak terpaksa -barangkali- para siswa tidak 
membelinya. "Bagi-bagi rejeki," pikirku. Aku pun ngloyor ke arahnya. Waktu itu uang 
Rp 50 masih bisa mendapatkan segelas es. 

Belum lagi air itu kuminum, tiba-tiba 'pembaca protokol' itu berdiri di depanku, hanya 
terpisah oleh gerobak kecil tempat menata botol-botol sirup sekitar satu meter. Rupanya 
Si Dia juga kehausan dan punya selera yang sama. Di hari yang terik itu, aku segera 
mengucapkan, "Selamat pagi..." Si Dia malah bilang, "Selamat siang dong...!" Lalu 
kubalas, "Selamat Pagi Indonesia... karya Supardi Djoko Damono...!" Judul puisi wajib 
bagi seluruh peserta lomba baca puisi yang sama-sama kami ikuti sebelumnya. 

Dia hanya menjawab, "Nggak lucu!" Sambil berlari kecil membawa bungkusan es sirup 
warna orange. Aih! Ketika masuk kelas pada Senin harinya, orang yang bilang "nggak 
lucu" itu ketemu lagi. Rupanya kita sama-sama duduk di kelas satu 'A'. Hari pertama kita 
masuk, Wali Kelas meminta masing-masing siswa memperkenalkan diri. Dari perkenalan 
demi perkenalan itu, aku jadi tahu kalau 'satu A' terdiri dari para 'Veteran' berbagai 
perlombaan di masing-masing SD dulu. 

Saat tiba giliranku, aku hanya memperkenalkan nama dan asal sekolahku. Begitu aku 
akan kembali duduk, ada diantara siswa yang protes, "Hi... curang, dia pelajar teladan tuh 
Pak! ! !" Hotman Simatupang, guru matematika yang kebetulan waktu itu memimpin 
perkenalan kami menahanku agar tidak duduk dulu. Ia memintaku untuk melengkapi 
introduction. Yah... terpaksa sambil nyengir kuda kuceritakan juga sedikit pengalaman 



eS-De. 

Perkenalan selesai. Acara berikutnya pemilihan Ketua Kelas. Orang yang kemarin lusa 
bilang "Ngga' lucu!" itu terpilih menjadi kandidat. Aku juga. Ha ha ha. Apa karena gara- 
gara beli es sirup di tempat yang sama, atau gara-gara sama-sama baca puisi, aku tak 
tahu. Di eS-De udah bosan jadi Ketua Kelas, juga ketua regu "Rajawali". Aku buru-buru 
konsentrasi doa moga-moga bukan aku yang terpilih jadi Ketua Kelas. Anugerah....benar! 
Alhamdulillah, aku tak terpilih. Protokol "ngga' lucu" itu akhirnya resmi jadi Ketua 
Kelas satu A. Sedangkan aku lupa, entah jadi apa. 

Selain pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Pembohongan Bangsa) yang mencetakku 
menjadi Pancasilais dan Nasionalis, tidak ada pelajaran lain yang aneh. Kalaupun saat itu 
aku cukup menyukai subject Bahasa Inggris, itu karena Pak Ma'ruf kulihat rajin shalat. 
Soal vocab, kelas V SD aku sempat sedikit berguru pada abang kandungku -yang sampai 
detik buku ini kutulis tidak pernah bertemu lagi (semoga Allah memberikan hidayah). 

Satu dua pesan guru Ibtida'iyyahku, membantuku tidak terlalu terseret aras kerusakan 
remaja awal. Setidaknya dalam nuraniku yang masih sangat ingusan waktu itu, tertanam 
perasaan atau semacam 'intuisi', bahwa kelas 'satu A' sedang berjalan menuju 
kerusakan. Betapa tidak, sebagian besar siswa telah merobohkan tiang agama. Mereka 
meninggalkan shalat. Belajar mulai jam 13.00 WIB, selesai 17.30 WIB, Maghrib 17.45 
WIB. Shalat Asharnya kapan? Alhamdulillah, aku dan tiga orang teman sekelas 
memanfaatkan waktu istirahat yang sangat singkat itu untuk shalat Ashar di luar sekolah 
seberang jalan. Disebut masjid Den-Bek. Sarung Cap Manggis dan peci hitam cap 555-ku 
kerap kami pakai bergantian. Alhamdulillah. 

*** 

Heterogenitas dunia eS-eM-Pe di jantung kota itu memang sangat mengasyikkan. Adalah 
hal yang sangat biasa jika siswa dan siswi belajar bersama, kemah bersama, makan 
bareng-bareng, naik angkot nengok teman sakit bareng-bareng. Itu semua -pada saat itu- 
kuanggap tidak apa-apa. Bahkan kuanggap sebagai 'keharusan' dunia remaja. Dengan 
modal hanya 'tidak meninggalkan sholat', aku sangat bangga dan bersemangat saat 
menceritakan kepada Ayah-Bunda bahwa aku dan teman-teman, siswa dan siswi, empat 
atau lima orang, habis nonton film bareng. Tidak ada teguran sekalipun aku telah bergaul 
dengan bukan mahram. Kalau di kota yang terkenal religius saja sudah seperti itu, 
bagaimana pula pergaulan di kota lain? 

Pergaulan yang -jika dilihat dari kacamata Islam- termasuk amburadul itu, dengan takdir 
Allah tidak menghalangiku untuk meraih juara I pidato se-SMP 4. Naskah pidato yang 
kutulis sendiri pada waktu itu tak lain dari memory recall pelajaran Tarikh Nabi sewaktu 
di ibtida'iyyah, ditambah dengan sedikit dari "Sejarah 25 Nabi dan Rasul" Ny. Hadiyah 
Salim, hadiah dari Bunda tercinta. 

Allah Maha Penyayang. Maha Pengasih. Maha Tahu. Dialah, hanya Dia; Pemberi 
hidayah. Dia tidak membiarkan masa remajaku 'terbakar' begitu saja oleh gelombang 



sekularisme dan materialisme bin Pancasila. Satu ketika seusai EBAS (Evaluasi Belajar 
Akhir Semester) dua, seluruh sekolah libur selama dua pekan. Saat itu bertepatan dengan 
bulan Ramadhan. Di antara beberapa organisasi Islam, Muhammadiyah dan Persis 
bergabung mengadakan acara Pesantren Ramadhan. Dengan dorongan kedua orangtuaku, 
kakak serta abang, Allah menggerakkan hatiku untuk mengikutinya selama sepekan. 

Penjelasan dan pengajaran yang ilmiah, fair dan bersahaja, ditambah keikhlasan para 
asatidz dan panitia, menjadikan aku benar-benar tertarik. Di situlah aku mengerti apa itu 
bid'ah, apa itu sunnah, apa itu syirik dan apa itu Islam. Penjelasan masalah pergaulan, 
membuatku benar-benar tertusuk. 

Masih segar dalam ingatanku keterangan guru agama di SMP, bahwa dalam berjalan, 
siswi harus di sebelah kiri dan siswa di sebelah kanan. Ini karena perempuan di Indonesia 
aturannya memang berjalan di sebelah kiri. Nah, pada saat ustadzah di Pesantren 
Ramadhan memancing para peserta tentang bagaimana cara berjalan lelaki dan 
perempuan ketika bersama-sama? Secara spontan dan sangat 'pe-de' aku menjawab 
persis seperti yang diterangkan guru agamaku di SMP. Ada juga peserta yang menjawab 
kebalikannya, tetapi kebanyakan idem dengan jawabanku. 

Setelah suasana reda, ustadzah kemudian menjelaskan bahwa berjalan beriringan lelaki 
dan wanita yang bukan mahram adalah haram, dilarang dalam Islam. Baik si laki-laki di 
sebelah kanan atau di sebelah kiri, baik sepasang maupun beberapa pasang. Beliau 
kemudian memberikan dalil dari Al-Qur'an dan Hadits yang menjadi dasar hukum 
keterangannya. 

Uraian beliau membuatku benar-benar kaget, sedih dan sejuta perasaan lain. Kurasa, 
itulah kontlik batin pertama yang kualami. Bagaimana tidak, sejak aku mengenal sekolah, 
aku telah terbiasa bergaul dan bermain dengan siswi-siswi yang tak menutup aurat. Bebas 
bersalaman dengan mereka tanpa merasa berdosa. Bahkan setiap kali aku kebagian 
giliran tugas baca do'a dalam upacara bendera, ada beberapa siswi yang dengan sukarela 
memakaikan dasi kupu-kupu di leherku, ada yang memakaikan topi, lalu kemudian kami 
tertawa riang bersama khas remaja tanpa merasa berdosa sedikit pun. Jika ada yang tidak 
suka dengan gaya kami, segera kami beranggapan bahwa dia cemburu, atau buruk 
sangka, atau ketinggalan zaman. Jadi, ya kami jalan terus, toh kami nggak ngapa- 
ngapain, lagian di depan banyak orang. Musibah! 

Bagiku, Pekan Ramadhan saat itu benar-benar penuh hidayah dan rahmat. Itulah starting 
point yang membuatku mengerti betapa indahnya Islam, betapa hebatnya Islam, betapa 
sempurnanya Islam. Di situ aku mengerti bahwa hanya Islamlah satu-satunya jalan 
menuju kemuliaan hidup di dunia dan akhirat. Padahal sebelumnya aku hanya mengerti 
bahwa Islam itu sekedar ritual. Sejak saat itu aku mulai mengerti apa arti hidup, apa arti 
ibadah. Aku mulai paham dan merasakan sebuah kekhusyu'an. Aku mengerti bahwa 
masa-laluku adalah salah. Astaghfirullah!!! 



Senin, aku harus kembali ke eS-eM-Pe E. Tidak seorang pun tahu bahwa hampir 
sepanjang malam aku menangis, menyesali masa lalu. Kadang-kadang batinku 
'mengutuk' mengapa para asatidz di Ibtida'iyyah dulu tidak memberikan pengertian yang 
benar tentang Islam. Begitu juga guru agamaku di SMP. Sebenarnya, aku enggan kembali 
ke sekolah. Saat itu aku benar-benar membenci teman-teman wanita di sekolahku, kecil- 
kecil udah pada nyanyi lagu cinta, giliran disuruh ngaji pada mlongo. 

Aku juga membenci diri sendiri kenapa masuk sekolah 'Belanda' itu? Demi menghormati 
dan menjaga hati orangtua, meski dengan ogah-ogahan, akhirnya aku ke sekolah. 
Biasanya naik angkot, kali itu aku jalan kaki sambil tak berhenti memikiran dan 
membandingkan materi-materi di Pekan Ramadhan dan di SMP. Jauuh...jauuh! Aku 
benar-benar menyesal, kecewa dan marah. Tapi pada siapa? Aku juga cukup jengkel 
begitu ingat bahwa ke sekolah harus mengenakan celana pendek warna biru di atas lutut. 

Sejak di gerbang sekolah sampai di kelas, tak seorang pun yang kusapa. Teman putri 
yang bilang "Selamat pagi" pun tak kujawab. Teman putra yang bilang "Selamat pagi" 
kujawab dengan, "Assalamu'alaikum." Beberapa menit kemudian, pengajian oleh guru 
agama di lapangan basket dimulai. Para siswa dipersilakan bertanya tentang seluruh 
masalah agama setelah beliau berceramah sekitar setengah jam. Aneh, penjelasannya 
sama sekali tidak menyentuh hati dan cenderung membosankan. 

Dalam secarik kertas, kutuliskan pertanyaan tentang hukum seorang wanita baligh 
mengenakan jilbab. Maksud pertanyaanku, agar guru agama itu menjelaskan kepada 
seluruh siswi supaya menutup aurat mereka. Kupikir beliau akan menerangkan kadungan 
surat An-Nur ayat 30-31 dan Al-Ahzab ayat 53 tentang kewajiban memakai jilbab. 
Tercengang aku. Apa jawaban beliau? "Jilbab adalah budaya Arab, untuk menutupi 
wajah dari pasir karena Arab terkenal gurun pasirnya. Sedangkan Islam mencintai 
kebersihan. Sedangkan di Indonesia alam dan iklimnya lain. Jadi tidak wajib memakai 
jilbab." 

Benar-benar menjengkelkan. Saat itu aku merasa berada di tengah dunia lain. Dunia 
sekuler. Dunia yang jauh dari Al-Qur'an dan Sunnah. Dunia yang jauh dari Islam. Dunia 
yang sangat dekat bahkan terkumng oleh Sumber dari segala sumber hukum yang berlaku 
di Indonesia: adalah Pancasila. Dunia astung! 

Raport kenaikan kelas dibagi. Seperti biasa, juara kelas I sampai III disuruh berdiri di 
depan kelas. Aku hanya tunduk. Bosan. Hati kecilku waktu itu sudah bergumam gundah, 
"Aku juara sekuler!" Mulai hari itu, aku mempunyai kekuatan dalam hati untuk tidak 
bersalaman dengan perempuan non-mahram. So, barangkali teman-teman putri yang dulu 
memakaikan topi dan dasi kupu-kupu warna biru, ketika upacara, agak terkejut dan 
tersinggung ketika uluran tangan mereka tak kusambut. Saat itu aku hanya merapatkan 
kedua telapak tanganku di depan dada sambil berkata, "Alhamdulillah." Aku sempat 
mendengar ucapan salah seorang dari mereka, "Dih... najis, kok berubah?" 

Benar! Ketua regu Garuda, pembaca doa upacara bendera, dan 'siswa gaul' itu, telah 
berubah. Sejak liburan panjang akhir tahun ajaran 1984/1985 dimulai, aku sudah berniat 



good bye SMP sekuler. Aku ingin mesantren atau pindah ke sekolah PERSIS (Persatuan 
Islam). Niat itu sudah kusampaikan kepada kedua orangtuaku. Mereka bingung juga. 

Sejak SD dan Ibtida'iyyah, aku punya tempat khusus untuk menyendiri selain taman 
bacaan. Tempat itu berada di tegalan yang tak terlalu jauh dari kuburan, sekitar 100 meter 
dari rumah. Saat itu, aku memilih ke 'pertapaan'-ku sambil membawa buku. Barangkali 
dapat ilham, pikirku. 

Sekitar 20 meter dari tempat yang kutuju, terdapat 3-4 anak-anak sebayaku bermain. Satu 
di antaranya teman sekelasku waktu SD. Kami ngobrol sebentar. Baru sekitar lima 
menitan, tiba-tiba mata kaki kananku seperti disengat sesuatu. Dua anak yang sejak aku 
datang asyik menikmati mangga di atas pohonnya, tiba-tiba langsung melorot turun. Dua- 
duanya kemudian lari menjauh sambil teriak "Ular..ular..!" Teman yang tadi mengobrol 
pun jadi ikut bingung. Soalnya kami tak melihat ular. Kakiku terasa berdenyut-denyut. 
Nyeri. 

Kulihat agak kebiru-biruan. Ada lubang kecil dan sedikit darah tapi tak mengalir. Segera 
kumasukkan ibu jariku ke langit-langit mulutku. Kuambil lendirnya. Bismillah, 
kusapukan lendir itu ke tempat luka. Setengah pincang aku berlari kecil ke rumah. 
Temanku tadi ikut mengantar. Kejadiannya setelah Ashar. Begitu Maghrib, ukuran 
kakiku menjadi dua kali lebih gemuk dari kaki kiri. Kami berdua tak tahu pasti apa 
penyebab sebenarnya. 

Dalam keadaan kaki sakit, beberapa hari kemudian aku mendapat undangan menghadiri 
semacam Bazar Amal Pesantren Persatuan Islam. Berjalan kaki tak mungkin, naik becak 
juga dilarang. Jalan terakhir satu-satunya adalah naik 'kendaraan terakhir' yang ayah 
miliki. Akhirnya kami keluarga menghadiri bazar tersebut. Belakangan aku baru sadar, 
rupanya itulah 'kebersamaan terakhir' yang aku lampaui bersama kedua orangtuaku. 

*** 

Rasa haru dan kagum timbul saat menyaksikan murid-murid SDI (SD Islam) 
mementaskan kemampuan mereka menghafal hadits sekaligus terjemahannya. Luar biasa. 
Tiba-tiba ada yang mencabut peci 'sakti' cap 555 yang bertengger di kepalaku. Orang 
berjilbab yang ternyata 'kakak pernah sepupuku' pelakunya. Dia bilang, "Nanti kalau 
dipanggil ke depan, kamu jangan pakai peci ya! Bagusan tanpa peci." No comment. 
Akhirnya peci 'apek' kesayanganku itu dikembalikan lagi. 

Pada sesi akhir acara Bazar Amal, aku terkejut begitu namaku disebut sebagai peserta 
terbaik Pesantren Ramadhan tahun itu. Aku diminta naik panggung. Sambil setengah 
pincang dan setengah malas, kukeluarkan peci yang kukantongi tadi dan kukenakan 
kembali. Tepat di dekat tangga anak panggung yang terlindung dari penglihatan hadirin, 
tiba-tiba sepupuku mencabut kembali peciku sambil bilang, "Udah gitu aja, cakep tuh!" 
No time, naik panggung, terima piagam. Hadirin tepuk tangan. Bosan. Aku turun lagi. 

Sejak menyaksikan kemahiran murid-murid Pesantren Islam itu, keinginanku untuk 



pindah sekolah semakin kuat. Di sekolah itu semua siswi berjilbab, anggun dan sopan. 
Ruh ke-Islaman kuat terasa. Sedangkan seluruh siswa mengenakan celana panjang. 
Mantap! 

Tahun ajaran baru 1984/1985 tiba. Kaki kananku yang belum membaik lebih menguatkan 
alasanku untuk tidak daftar ulang ke sekolah sekuler. Lewat seminggu, datang utusan dari 
sekolahku mempertanyakan masalah daftar ulang dan kelanjutan pendidikan. Tanpa 
sepengetahuan ayah ibuku, kukatakan kepada mereka, yang juga teman sekolah dan 
tetanggaku, bahwa aku akan pindah sekolah. Mereka kaget dan tidak setuju dengan 
rencanaku itu. Rata-rata mereka menyayangkan prestasiku dan kemampuanku jika harus 
pindah ke sekolah lain. 

Tak sampai sepekan, teman-teman yang datang menemuiku lebih banyak lagi. Aku salut 
dengan solidaritas mereka. Kali ini ibuku turut bicara. Satu di antara mereka 
menyampaikan pesan sekolah bahwa aku mendapat juara umum ke-3 se SMP. Penentuan 
itu didapatkan dari hasil EBAS plus kegiatan ko dan ekstra kurikuler. Juara satunya diraih 
oleh kakak kelas. Kedatanganku sangat diharapkan dalam upacara Senin sekaligus 
pengumuman dan pembagian hadiah. Jadi, kata mereka, kalau mau pindah sekolah ya 
nanti saja setelah pengumuman, yang penting datang dulu. 

Nampaknya ibuku tertarik, padahal aku juga tertarik, tapi sedikit. Aku tidak ingin ibuku 
kecewa, sekali pun beliau tidak memaksa. Hati manusia begitu tipis, mudah berubah, 
apalagi jika berhadapan dengan dunia, barangkali aku seperti itu. Musibah lagi! 

Ke sekolah lagi. Sepatu ' Arista" strip kuning, celana biru pendek, dasi kupu-kupu cap 
"kancing cepret", topi pet, tas anti karat anyaman daun pandan, langsung ke bagian 
Admin bayar daftar ulang. Di situ aku baru tahu aku duduk di kelas paling bontot, II-E. 
Masuk sebentar, sekedar menyimpan tas di sembarang meja. Bel upacara telah dipencet 
pertanda dimulai apel Senin di lapangan basket. Biasanya aku ada di depan atau baris 
kedua, karena memang tubuhku kecil. Tapi setelah 'nyantri' aku memaksa berada di 
barisan belakang. Tidak ada yang menarik dari penjelasan 'Pembina Upacara' sekaligus 
Kepala Sekolah itu. 

Pembina OSIS membacakan pengumuman yang bagiku tak surprise lagi. Namaku 
dipanggil maju lagi. Berdiri dekat tiang bendera menghadap ke arah sekitar 600 bocah 
lebih siswa dan dewan guru. Kepala sekolah menyalami kami setelah memberi hadiah. 
Tepuk tangan riuh rendah. Hatiku biasa saja, sebab waktu itu aku sudah mengerti apa itu 
riya' dan apa itu rendah hati. 

Kelas II-E. Alhamdulillah, dengan teman putra dari kelas berapa pun aku adaptable, 
begitu juga dengan guru-guru. Ada satu topik yang cukup melekat di benakku saat itu 
bahwa wanita adalah tiang negara, jika wanita baik maka negara akan baik, jika wanita 
rusak maka negara rusak. Bekal dari pesantren Ramadhan bagiku menjadi beban moral. 
Didorong oleh hadits, "ballighu 'anni walau ayah" (sampaikanlah dariku walaupun satu 



ayat), akhirnya aku ajak teman-teman diskusi di kelasku, baik putra maupun putri. Saat 
aku bicara masalah jilbab, 99,999% tidak nyambung. Dari 24 siswi hanya satu yang 
nyambung. Barangkali pendidikan agama di rumahnya cukup bagus. Tapi ya bagaimana? 
Mau pakai jilbab di zaman seperti itu sama halnya dengan mengharapkan surat berhenti 
sekolah. 

Ada yang lucu. Waktu itu istilah 'dengkulmu' adalah istilah gaul yang sama sekali tidak 
berarti kasar. Ia lebih sebagai istilah keakraban. Saat aku ajak ngobrol masalah aurat pria 
tiba-tiba hampir serempak ada beberapa teman nyeletuk, "Dengkulmu, bagaimana coba?" 
"Sama-sama bengkok," kataku. Kami tertawa bersama. 

Saat itu, semangat membacaku semakin 'menggila' . Tiada hari tanpa perpustakaan. 
Keragaman judul buku dan ruangan yang cukup luas membuatku sanggup bertahan lama. 
Alhamdulillah, hampir sebagian besar buku di tempat itu pernah kubaca. Setelah buku- 
buku agama, ensiklopedia bergambar tentang alam semesta benar-benar menarik 
perhatianku. Seingatku, satu-satunya novel yang pernah kubaca adalah, Di Bawah 
Lindungan Ka'bah karya Buya Hamka. 

Sedangkan Tengelamnya Kapal Van Der Wijck Hamka, Salah Didik, Salah Asuh, 
Atheist, atau yang lainnya aku sama sekali tak tertarik. Aku juga tidak tertarik dengan Siti 
Nurbaya yang hanya tahu judulnya saja. Satu ketika aku pernah kecewa terhadap 
perpustakaan. Ceritanya, aku bermaksud pinjam buku untuk dibawa pulang. 
Alhamdulillah, ternyata buku-buku itu sudah kubaca. Ada yang belum kubaca tapi tak 
menarik, ada juga yang menarik tapi sedang dipinjam anggota perpustakaan lain. Jadi tak 
ada judul baru yang bisa kubaca. Kalau tak salah, jatah maksimal buku yang boleh 
dipinjam dalam satu kali adalah tiga judul. Tetapi aku biasanya nego dengan penjaga 
perpustakaan. 

Alhamdulillah bisa membawa pulang sampai empat buku. Meski demikian, kebiasaan 
'mustaka' itu tidak membuatku menjadi 'kuper'. Pergaulan dengan teman-teman tetap 
terjaga. Meski waktu undangan ulang tahun dari siapapun tidak pernah kuhadiri. 
Alhamdulillah, aku berhasil menolak dengan cara yang baik. Satu dua orang ada yang 
menganggapku fanatik, tetapi dia menghormati pendirianku. Jadi kita nggak clash. Kami 
jalan masing-masing. 

*** 

Suatu ketika aku dipanggil oleh guru elektronika yang juga pembina pramuka. Bukan 
main senangnya ketika diberitahu bahwa aku mendapat beasiswa Depdikbud Kabupaten 
Serang. Jika ketika SD aku dibebaskan uang SPP dan BP3, maka kali ini aku mendapat 
tabanas selama setahun. Aktifitas di OSIS sama sekali tidak mengganggu stabilitas 
prestasi belajarku, baik sebagai juara kelas maupun juara umum. Alhamdulillah. Malah 
pergaulanku semakin luas. 

Entah siapa yang mulai, teman-temanku tiba-tiba menjodoh-jodohkanku dengan ketua 
OSIS yang juga mantan juara baca puisi SD, sekaligus pernah bilang, "nggak lucu". Aku 



cukup terkejut saat memasuki aula, tiba-tiba adik-adik kelas dan kakak kelas menyanyi, 

"Zakiyah siapa yang punya... Zakiyah siapa yang punya..., yang punya ... Abdul Aziz". 

Tak bisa kugambarkan perasaanku. Aku dan istriku (sorry, waktu itu belum jadi istri) 

saling pandang secara retlek dan kami sama-sama tersenyum. 
Tapi itu hanyalah sebuah lukisan yang sempat terpampang di kamar belajarku, kamar 
seorang siswa kelas 3A, No Induk 8485 1027, SMP Negeri 4 Serang, Jl Juhdi No. 18, 

Serang, Banten, Jawa Barat, Indonesia. Kodeposnya lupa, tetapi barangkali istriku ingat, 
sebab dia teman sekelasku dulu, pernah di bangku depan, duduk bersebelahan. 

Di sebelah lukisan bagus itu ada rumus. Rumus yang mengesankan. Di bawah rumus- 
rumus itu ada tumpukan buku. Di antara buku-buku itu ada sebuah buku berjudul, Ayatur 

Rahman fie Jihadi Atghanistan (Tanda-tanda kekuasaan Allah dalam Jihad di 

Atghanistan) tulisan Dr. Abdullah Azzam rahimahullah. Mereka yang sempat membaca 

buku itu, Insya Allah akan tergerak hatinya untuk berjihad mengangkat senjata ke 

Afghanistan. Tapi waktu itu umurku masih 16 tahun, baru bisa membayangkan, 

menghayati, dan kemudian melamun. 

Lebih dari sekali buku itu kubaca, dan selesai membacanya selalu Aku berdoa semoga 
Allah menyampaikanku ke bumi Afghanistan, negeri para syuhada, negeri para penghuni 

syurga. 

Di pintu dalam kamar belajarku, ada aku gambar peta Afghanistan. Bentuknya mirip peta 
Kalimantan. Terakhir kulihat pada tahun 1995. Saat aku menikah, gambar itu masih 

tertempel di sana. 

Sejak mengenal 'buku ajaib' itu, aku tak pernah berhenti berdoa agar Allah 

menggabungkanku dengan para mujahidin dan menjadikanku salah seorang syuhada. 

Untuk mempertajam dan memantapkan doaku, sejak saat itu juga aku berhenti nonton TV 

dan mendengarkan musik. Saat itu juga, aku menjadi semacam introvert. Teman setiaku 

adalah Al-Qur'an dan buku-buku diniyah (agama). Sesekali, aku ada membaca surat 

tulisan tangan dari seorang teman wanita yang kini menjadi ibu bagi anak-anakku juga 

anak-anaknya. 

*** 

Intifadhah Palestina dan jihad Afghanistan membuat diriku benar-benar geram dan 
gundah. Aku ingin segera selesai sekolah dan mencari kerja untuk mendapatkan ongkos 
ke Afghanistan. Tapi ya bagaimana, untuk beli perangko kartu lebaran dan buku diary 
untuk kukirim ke Ketua OSIS-ku saja, aku harus menjebol tabunganku hasil beasiswa 
dari Depdikbud waktu itu. Ketua OSIS-ku waktu itu, kini menjadi Perdana Menteri di 
kerajaan tentara dan mata air di surga (nama putraku berarti Tentara Allah, dan nama 
putriku berarti mata air di surga). Dan yang menjadi Kaisar atau Rajanya adalah Imam 

Samudra. 

Alhamdulillah, Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Tiga tahun kemudian 
doaku terkabul. Tahun 1990, aku lulus MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Cikulur, Serang. 



Di sebuah masjid Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, tepatnya masjid Al Furqan, jalan 
Kramat Raya 45, Jakarta, aku mendengarkan ceramah dari seorang da'i yang kurang aku 

kenal namanya. Saat itu juga aku berjumpa dengan seseorang bernama Jabir (syahid 

dalam peristiwa bom Antapani Bandung). Dengan bahasa Indo-Sunda, kami berkenalan. 

Kemudian entah bagaimana ceritanya, pembicaraan saat sampai pada topik jihad. 

Kuceritakan buku-buku jihad yang pernah kubaca, ia nampak interes dan antusias. 

Setelah dia (agak) mengorek latar belakangku, seingatku waktu itu, dia berkata, "Tahun 

ini ada pemberangkatan, mau ikut nggak?" Untuk memperkuat dugaanku lalu kutanya, 

"Maksudnya ke Afghanistan?" Dia hanya menjawab, "Dik, udah dech, cepetan cari 

ongkos sekitar Rp 300 ribu. Insya Allah kalau antum ikhlas, Allah akan memudahkan 

urusan antum." 

Ciaoooo! ! ! Segera aku pamit dan kembali ke rumah. Ada sedikit sisa tabungan hasil 

kirim artikel berita ke Panji Masyarakat ditambah pemberian ibunda tercinta. Aku tak 

terlalu enak meminta uang dari ibuku, tapi apa boleh buat, setelah aku nyatakan bahwa 

aku akan ke luar negeri, beliau memberikan uang yang aku perlukan. Uang itu hasil usaha 

menjual jilbab dan busana muslimah yang kadang-kadang kubantu mencarikan bahan- 

bahannya di Tanah Abang, Jakarta. 

Jumpa lagi sekitar tiga hari berikutnya dengan Kang Jabir. Setelah mendapatkan paspor 

Jakarta dalam minggu yang sama, kami ke Dumai dan bermalam sehari. Keesokan 

harinya, perjalanan dilanjutkan ke Malaka, Malaysia. Pada waktu itu rute Dumai-Malaka 

terkenal sebagai jalur TKI. Tidak sedikit mereka yang ditolak oleh imigrasi Malaysia, 

sekalipun mereka melengkapi dengan dokumen resmi dan uang tunjuk (uang jaminan 

selama tinggal di Malaysia). 

Karena barangkali aku tidak memiliki tampang TKI, Alhamdulillah, dengan mudah dapat 

melewati antrian ratusan 'turis' Indonesia yang akan ke Malaysia. Tinggal sehari lebih 

sedikit di Malaysia. Keesokan sorenya kami menuju bandara Subang-Jaya, Selangor 

Darul-Ehsan. Begitu pesawat MAS (Malaysian Air System) take off, aku baru merasakan 
benar-benar berat meninggalkan tanah air. Ada perasaan 'lain' terhadap mantan Ketua 
OSIS SMPN-4 angkatan 84/85 Serang. Ok! Lupakan itu. Aku segera teringat ayat ini: 

Katakanlah, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum 

keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu 

khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, adalah lebih 

kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya maka 

tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak memberi 

petunjuk (hidayah) kepada orang-orang fasiq." 

(At-Taubah : 24). 

*** 

Di atas udara dalam pesawat, para kernet udara (stewardest) menawarkan free post card, 
amplop dan sejilid kecil kertas surat berlogo Malaysian Air System. Sambil mengisi 



waktu 8 jam flight KL-KHI (Kuala Lumpur-Karachi), kutulis sekeping post card kepada 

satu-satunya wanita -selain ibu dan saudariku- yang pernah singgah dan akhirnya 
menetap dalam kehidupanku. Wanita itu adalah mantan Ketua OSIS yang pada saat itu 
juga baru lulus SMA. Kalau tak salah post card itu ditulisi dengan terjemahan surat Al- 

Baqarah ayat 214: 

Apakah kamu menyangka bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang 

padamu (cobaan) 

sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh 

malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam 

goncangan/cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman 

bersamanya, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya 

pertolongan Allah itu amat dekat. 

Alhamdulillah, dengan takdir Allah, paid stamp post card itu akhirnya sampai juga ke 
tangan Sang Mantan Ketua OSIS, yang kuketahui beberapa saat menjelang pernikahan 

kami, 1995. 

Setelah transit dua jam di Bombay, India, MAS yang kami tumpangi selamat landas di 

Karachi. Sehari semalam, kami bermalam di maehmon khana (ruang tamu) sebuah 

masjid Karachi. Perjalanan dilanjutkan ke Peshawar pada awal pagi. Sampai saat ini aku 

tak tahu apa nama daerah itu, sebuah rumah gaya Paki-Afghan yang sangat sesuai dengan 

syariat Islam. 

Tinggal sehari di situ. Ba'da shubuh esok harinya, perjalanan ke negeri impian para lelaki 
dilanjutkan. Melewati gunung-gunung yang indah, menumpang bus dengan penumpang 
sebagian besarnya berbahasa 'planet' yang tidak pernah kukenal sama sekali. Sepanjang 

perjalanan aku yang mengenakan pakaian Afghanis dan menutup seluruh wajahku 

kecuali mata dengan menggunakan ridah (selimut tipis), tidak mengucapkan sepatah kata 

pun. Sekali bicara, orang akan tahu siapa aku. Perjalanan sepenuhnya dipimpin oleh 

Syahid Jabir dan dua orang Arab yang sampai saat ini tak kukenal darimana dan siapa 

namanya. 

Menjelang Ashar, dengan berjalan kaki dari perbatasan Pakistan-Afghanistan selama 

hampir 4 jam, sampailah kami di sebuah camp sederhana yang terkenal dengan sebutan, 

Muaskar Khilafah. Di situ aku memulai kehidupan yang sama sekali baru dan sangat 

baru. Kehidupan yang betul-betul bersih sekalipun tidak disebut 'steril' 100 persen. 

*** 

Sungguh, 

satu babak kehidupan baru yang amat membahagiakan. 

'Musik' kami adalah rentetan peluru, ledakan mortar, 

dan dentuman zigoyak dan da-scha-ka- (anti air craft gun). 

'Nyanyian' kami adalah nasyid-nasyid (sejenis achapella) 

pembangkit semangat jihad. 



'Senandung' kami adalah lantunan ayat-ayat Al-Qur'an 

yang tak pernah berhenti selama 24 jam saling bergiliran. 

Tiada suara wanita, tiada tangis anak kecil, 

apalagi musik-musik jahiliyah, panggilan setan. 

Flat ground yang dikelilingi gunung di empat penjuru itu benar-benar menentramkan hati, 

benar-benar 'surga' bagi para perindu surga kekal di akhirat. Tidak ada seorang pun yang 

berani datang ke tempat itu kecuali ia benar-benar siap menggadaikan nyawanya di jalan 

Allah. Tidak ada seorang pun bertahan lama di situ kecuali jika ia telah siap bertarung 

melawan kaum kafir, baik komunis asli Uni Soviet ataupun komunis northern sebangsa 

Dustum -yang kini berkoalisi dengan Si Karzai di bawah ketiak Amerika dan para 

pengecut sekutunya. 

Mereka yang datang ke tempat 'aneh' seperti itu hanyalah mereka yang siap membunuh 

atau dibunuh kafir, siap berjihad demi menegakkan kalimat Allah. Dan kesiapan mental 

seperti itu, hanya akan terwujud dengan rahmat dan takdir Allah. Alhamdulillah. 

Khost, nama tempat itu. Daun-daun zaitun masih kekal bertahan. Daun-daun caparkat dan 

cactus Afghan telah luruh, tinggallah duri-duri dan kayunya yang kelak dibakar untuk 

kayu penghangat dan pemasak. Anor (delima) tak lagi berbuah, runtuh sudah daun- 

daunnya. Saghol (serigala) melolong di tengah malam. Selapis jaket mesti dikenakan. 

Begitulah keadaannya saat pertama kali aku tiba. Ya, saat itu musim gugur telah tiba. 

Purnama kelima dari saat awal aku tiba telah menjelma. Musim gugur hilang sudah. 

Datanglah penggantinya. Afghanistan menggigil. Satu ketika sepulang belajar, saat aku 

berbaring di dekat room heater, suara keras bertubu-tubi menimpa atap tendaku, persis 

seperti bunyi lemparan benda keras. Saudara-saudara Afghan berteriak, "Baraan. . ., 

baraan. . ." Segera Aku longokkan kepalaku keluar tenda. Dan. . . pletak! Sebongkah 

benda menjitak kepalaku. Subhanallah.., bongkahan itu ternyata benda keras yang terbuat 

dari air yang membeku sebesar biji nangka. Dingin rasanya. Jernih warnanya. Es, nama 

benda itu... Kemudian baru kutahu kalau baraan itu artinya hujan. 

Tiga hari kemudian sekitar jam enam pagi kudengar lagi teriakan saudara Afghan, 

"Baraaf..., baraaf..." Penasaran kujengukkan kepala keluar tenda. Subhanallah..., Salju..., 

salju... ! Saat itu aku benar-benar menjadi 'anak kecil'. Jika dulu aku suka hujan-hujanan 

di kampung halaman, maka saat itu aku salju-saljuan. Segera aku melompat keluar tenda 

menyambut kapas demi kapas salju yang terjun dari pintu-pintu langit. Saudara-saudara 

Afghan dan Arab hanya cengar-cengir dan cengengesan melihat polahku, tapi aku tak 

peduli. Ya, di negeriku tidak ada salju. Yang ada hanyalah hujan air, dan setelah itu 

lahirlah banjir. 

Menjelang delapan pagi, saat akan memulai rutinitas, gunung-gunung di sekitar kami 

telah berselimut salju. Puncaknya begitu indah, hampir sama dengan gambar iklan 

Hazeline Snow. Di sekeliling kami tanah yang dulu berwarna coklat kini memutih, begitu 

juga pepohonan dan bebatuan. Kata penghuni lama di camp itu, suhu udara mencapai -7 

°C (minus tujuh derajat celcius), jauh di bawah titik beku. Aku sendiri tak pernah 



mengukur. Yang jelas, orang sekurus aku mengenakan sekitar 5 lapis pakaian, dan 
kadang-kadang 6 lapis jika ditambah jaket wool ala Eropa. 

Khost bukanlah kampus biasa. Bukan kampus orang-orang Eropa atau Amerika yang 

mengisi kehidupan mereka dengan segala kemaksiatan dan kemewahan dunia. Jika 

mereka kuliah, hanyalah demi kepentingan dunia semata. Khost adalah sekeping tanah di 

bentangan-bentangan bumi. Sewaktu-waktu, kapan saja, musuh bisa menyerang, 

menghantar mortar, memuntahkan peluru, lalu terjadilah pertempuran seru. Ajal memang 

di tangan Allah. Tapi di Khost dan front-front jihad lain di Afghanistan kematian terasa 

begitu dekat. Musuh ada di segala arah. Maut sewaktu-waktu akan menjemput. 

*** 

Siaga tetap siaga. Waspada tetap waspada. Tetapi 'indah' adalah 'indah' . Main salju 
bagiku terlalu indah, subhanallah. Umurku saat itu baru menjelang dua puluh. Masih ada 
tersisa rona-rona jahiliyah. Masih ada guratan-guratan kenangan lama. Tanggal dan 
harinya lupa sudah. Tetapi yang jelas di malam hari, langit begitu cerah, gemintang 
begitu indah menantang. Cassiopia, jalinan bintang berbentuk 'W kubidik sebagai 

sasaran. 

Nah. . ., tiba-tiba ingatanku jauh 'terlempar' ke alam 'sana', ke sebuah benua bernama 

Asia, terus terlempar ke Asia Tenggara, dan terus ke sebuah negara dengan ibukota 

bernama Jakarta. Di sebelah baratnya ada kota bernama Kalideres, diteruskan lagi ke arah 

barat. Satu jam kemudian kan tiba di terminal yang disebut Ciceri. Berjalan saja ke utara 

yang sekitar 1000 meter. Maka tibalah di sebuah tempat bernama Cinanggung. Ada 
sebuah rumah, Blok F 140.... Duh, ternyata di situlah rumah seorang wanita yang tempo 

hari kukirim postcard. 

Astaghfirullah! Segera kusebut asma-Nya, ada apa ini? Segera kuambil teko kecil berisi 
air hangat, lalu aku berwudlu, shalat dua rakaat, berbaring. Malam begitu panjang, mata 

sukar terpejam. Seperti telah kubilang, 'indah' adalah tetap 'indah', ingin aku berbagi 
cerita, tapi dengan siapa? Dengan saghol-saghol, dengan atap tenda, atau dengan siapa? 

Ternyata tidak ada. Ya sudah 'telan sendiri' saja. Retleks goresan jahiliyahku kembali 
timbul. Running text, penggalan syair Ebiet G. Ade pun berkelebat, katanya: 

Banyak cerita yang mestinya kau saksikan... 
Sayang kau tak duduk di sampingku kawan... 

Laa ilaha illallah. AstaghHrullahal 'Azhiim... kembali kusebut asma-asma-Nya. 

*** 

Casio F-44-w di tanganku menunjukkan angka 4 lebih sedikit. The seven brother, 

rangkaian rasi yang terdiri dari 7 bintang telah mengambil posisinya. Waktu sahur telah 

tiba, ikhwan-ikhwan yang lain segera kubangunkan. Beberapa potong daging, sedulang 

nasi minyak Afghanis, 4 sobek roti nan dan sambal kentang yang telah kuhangatkan 



segera kusajikan. Malam itu memang giliranku sebagai penyaji sahur. Dalam suasana 

ukhuwah, dengan penuh kesyukuran kami santap rezeki Allah itu. Sedangkan udara di 

luar sana kian menggigit. Pagi semakin dingin. 

Jumat pagi, sinar akhtab (matahari) cukup hangat. Ada sedikit aktivitas yang kami 

jalankan demi menjaga stabilitas iman dan stamina jasad. Demi maintenance niat-niat 

suci mencari syahid, menghimpun ridha Allah dan syurga-Nya. Hari itu, dalam salah satu 

even, Allah mengujiku dengan sedikit luka yang menimpa sebagian lengan dan kakiku. 

Aku diam, diriku dan Allah yang tahu. Aku berharap semoga hal ini kelak akan menjadi 

saksi di hari akhirat. 

Tetapi setelah itu, lagi-lagi sisa-sisa jahiliyahku mencuat, lalu mengalirlah di batinku, 

Mungkinkah kau masih mengharapkanku... 
Kini tubuhku penuh dengan luka... 

Potongan syair dari lagu Tommy J. Pisa yang sempat ngetop di masa aku eS-eM-Pe. Aku 

seolah-olah berbicara dengan sang mantan Ketua OSIS-ku itu. Suatu hal yang semestinya 

sangat tidak pantas dialami oleh lelaki yang sedang mengejar bidadari sejati di alam 

surga nanti. Yang sedang mengejar ridha Allah dan surga-Nya. 

Sungguh aku tak mengerti mengapa hal seperti itu mesti terjadi dan kualami. Tidak ada 

taktor pendukung secara lahir, baik dari personal, aktivitas lingkungan, yang dapat 

memancing kenangan itu hadir kembali. Pada sorenya, segera kuingat pesan Umar bin 

Khattab, "Hisablah dirimu sendiri sebelum kamu dihisab di akhirat kelak..." 

Ya, kini aku harus menghitung diri, instrospeksi atas segala apa yang terjadi dan kualami. 

Aku sangat mengerti bahwa mengingat wanita yang bukan mahram adalah termasuk zina 

hati. Mengenang masa lalu dengan mantan Ketua OSIS adalah juga termasuk dosa-dosa 

kecil yang akan mengotori hati. Tetap dosakah jika semua nostalgia itu datang secara 

surprise, tak dipaksa? Adakalanya kenangan itu tiba-tiba hadir saat mataku tertumbuk 

huruf Z, atau melihat kacamata. Kenapa? Ebiet G. Ade pasti tahu jawabannya. . . 

Teori umum mengatakan bahwa kenangan atau lamunan, biasanya timbul saat kita tidak 
memiliki kesibukan atau ketika waktu senggang. Tetapi aku tidak, justru kenangan itu 

timbul di saat-saat aku sibuk, di saat tanganku menyandang kalashinkov, di tengah 

gelegar mortar, di tengah hujan peluru dan bau mesiu. Saat menghisab diri yang entah 

untuk kesekian kali, hampir selalu tak ketemu jawaban. Mengadu pada teman sebaya, 

atau konsultasi pada senior? No! aku bukan tipe seperti itu. "Solve Yourself Problem !" 

Itu mottoku. Hanya Allah, hanya Allah, dan hanya Allah yang Maha Tahu. Dialah tempat 

mengadu. 

Akhirnya... Di musim salju tahun kedua, kujumpa jawabannya. Gerangan apa? 



"SEBAB AKU ADALAH MANUSIA." 

Rabbi... 

Telah aku berdoa pada-Mu 

Dalam hampir tiap-tiap waktuku. 

Aku berkata pada-Mu 

Cabutlah segala rinduku, kecuali kerinduan pada-Mu 

Dalam simpuh dan sujudku 

Selalu aku mengadu 

Jangan gugurkan pahalaku 

Hanya karena secuil rindu yang mengganggu 

Robbie... 

Jika Kau takdirkan peluru menembus ulu hatiku 

Dan lalu aku menjumpai-Mu 

Terimalah ke-syahidanku 

Telah aku bertaubat, atas segala kenangan yang kuingat. 

Ini ada peluru, ini ada mesiu 

Aku rindu Ayah Bunda, aku rindu Si Dia, 

Tetapi aku lebih rindu pada-Mu 

Saat musim salju tiba 

Maka rindu pun menjelma 

La hawla wala quwwata illa billah...